Sang Maestro

“Demi Allah! Sekalipun matahari diletakkan di tangan kananku dan rembulan di tangan kiriku, maka aku tak akan meninggalkan da’wah ini hingga agama ini tegak atau aku mati karenanya” (HR. Ibnu Hisyam)



Dengan segala upaya oknum yang jahil bersikap menghamparkan karpet merah untuk menyambut 'Sang Penjajah', dan mencoba membangun opini agar rakyat juga mengekor. Tapi sayang, lain dengan sikapku yang insyaAllah jauh lebih agung lagi mulia dari sikap mereka. Seandainya oknum yang jahil tetap ku seru dalam doa-doaku, meskipun tetap kusimpan dalam memoriku, sikapku terhadap 'Sang Penjajah' tetap bertolak belakang.

Bagaimana mungkin aku bisa menyambutnya dengan tangan terbuka, sedangkan dibelahan dunia lain, bukan disini tapi disana, di negeri tempat saudara-seimanku dijajah, ditindas, diembargo, dibantai, dan diboikot.
Dikegelapan malam mereka -saudara seimanku- memanggil dan menangis minta pertolongan, sementara 'Sang Penjajah' berdiri di tengah-tengah dengan bentangan sayap-sayap hitamnya dan tertawa terkekeh.
Disiang bolong, kematian melangkah dan mereka mengikutinya dengan penuh ketegaran dan keberanian. Tiada seorangpun dari mereka melewati prosesi amat sadis ini, tapi mereka tetap memelihara sebuah akhir dari pengharapan.
Dikegelapan malam, kematian berjalan dan mereka mengikuti dibelakangnya. Ketika mereka menoleh ke belakang, beribu-ribu bahkan berjuta-juta jiwa telah tertidur dan tak akan pernah bangun lagi.

Namun Obama 'Sang Penjajah' masih lapar dan kehausan, ia menambah 30.000 tangan-tangan besi untuk melahap jiwa-jiwa dan tubuh-tubuh saudara-seimanku, meminum darah dan air mata mereka, dan tidak akan pernah kenyang.

Oh, aku yang bangun pagi setiap hari, disambut oleh alunan melodi-melodi indah burung-burung penuh girang, menikmati desiran udara pagi penuh damai.
Terlalu sulitkah bagiku untuk menjawab tangisan saudara-seimanku dengan menolak Obama 'Sang Penjajah' yang mau menginjakkan kaki di negeri ini? "TIDAK".
Terlalu beratkah bagiku untuk turun ke jalan meneriakkan penolakan terhadap kehadiran Obama 'Sang Penjajah'? "TIDAK". atau...
Tegakah aku mengindahkan panggilan saudara-seimanku setiap hari dengan mengucapkan 'Selamat Datang' pada Obama 'Sang Penjajah' yang telah menghina-nistakan mereka dan agamaku? "TIDAK". Sekali lagi "TIDAK", "TIDAK", dan tetap "TIDAK".


"TIDAK" bukanlah sebuah pembangkangan terhadap negeri ini, "TIDAK" bukanlah sebuah pengkhiatan terhadap bangsa ini, tapi "TIDAK" adalah sebuah panggilan kehidupan yaitu AKIDAH ISLAMIYAH.
Allahu Akbar...
Allahu Akbar...
Allahu Akbar...

Bersamaan dengan artikel kali ini, Kang Alfan 'Sang Revolter' mengajak segenap sobat pembaca yang budiman untuk mengikuti Aksi Tolak Obama, pada hari Ahad 14 Maret 2010 di Surabaya dan di kota-kota besar lainnya. Semoga Allah memudahkan, tunjukkan dan buktikan jikalau kita emang seorang muslim yang peduli ama kemuliaan agama kita, peduli ama saudara kita, dan peduli ama harga diri kita. Mau?

-Salam Pembebasan-
Photobucket


Alangkah susahnya mencari kebenaran di akhir zaman.
Terutama orang awam
yang ilmu agamanya sekadar cukup untuk fardhu 'ain,
selain itu tidak mampu menilai Benar atau Salah,
Haq atau Batil, Bid'ah atau Sunnah.

Orang munafik menuduh orang lain munafik yang tidak munafik
Orang yang sudah sesat menuduh orang yang tidak sesat
sebagai sesat
Teraniayalah orang yang tidak munafik,
terzalimlah orang yang tidak sesat.

Ahli bid'ah menuduh orang yang berjalan di atas Ahlussunnah
sebagai pembuat bid'ah,
karena sudah ramai yang tidak ikut Ahlussunnah.
Banyak amalan Bid'ah yang dianggap Sunnah,
dan tidak sedikit amalan Sunnah yang dianggap Bid'ah.

Yang mengikut Ahlussunnah diklaim ahli bid'ah.
Teraniayalah pula pengikut-pengikut Ahlussunnah,
karena dianggap bid'ah.

Orang-orang baik dianggap jahat, penjahat-penjahat dianggap baik.
Karena orang yang baik terlalu sedikit, mereka terpinggir.
Terpinggir artinya jahat pada pandangan ramai.

Orang yang ada jawatan tinggi,
cakapnya dianggap benar dan sah belaka.
Rakyat jelata walaupun benar, cakapnya tiada harga
tidak diambil kira sekalipun dia seorang yang shaleh
Jawatan tinggi yang menentukan salah benar sesuatu masalah

Bukankah terkeliru dibuatnya di dalam mencari kebenaran?
Begitulah watak akhir zaman,
yang sudah jauh dari zaman Rasul SAW
Sungguh susah hendak mencari kebenaran,
macam hendak mencari gagak putih atau merah.

Tunjukkanlah kami ya Allah jalan kebenaran
Agar kami tidak sesat jalan menuju Engkau
Ya Allah selamatkan kami.
Photobucket


Tak kau dengarkah langkah-langkahku yang bisu? aku datang, datang, selalu datang setiap saat dan setiap waktu, setiap malam dan setiap siang, setiap hari dan sepanjang hari. Banyak persembahan yang telah ku kidungkan dalam aneka suasana jiwaku, tetapi aku tak tahu darimana engkau makin dekat untuk kutemui? aku yakin, yakin, dan selalu yakin bahwa suatu saat mentari dan bintang gemintang takkan mampu lagi membiarkanmu tersembunyi dariku. Dalam banyak pagi dan petang, langkah-langkahmu telah mulai terdengar ke dalam hatiku dan memanggilku secara rahasia.

Keheningan lautan pagi dipecahkan oleh ceracau kidung burung; dan bunga-bunga semuanya bersuka ria di tepi jalan; dan kekayaan emas ditebarkan melalui celah awan-awan, sementara aku tak tahu mengapa hari-hari ini hidupku seluruhnya terjaga, dan sebuah rasa gembira yang menggetarkan melintas melalui hatiku. Ia bagai waktu yang datang agar aku segera menyempurnakan separuh agama ini, dan aku merasakan semerbak samar-samar keharuman kehadiranmu di udara.

Sang surya merangkak ke tengah langit dan burung dara mendengkur dalam naungannya, daun-daun kering menari-nari dan berputar-putar di udara siang yang menyengat. Akhirnya aku pun menemukanmu, engkaulah yang ku dambakan, hanya engkau hatiku merindukannya tanpa henti; seperti malam yang tetap tersembunyi dalam permohonannya akan terang cahaya siang, demikian jualah di kedalaman nir-sadarku bergema munajatku mendambakanmu, hanya engkau, wahai titisan Fatimah az-Zahra; seperti badai yang masih mencari jalanya dalam ketentraman kala ia menyerang ketentraman dengan sekuat tenaga, demikian jualah pergolakan cintaku padamu dan doa-doaku masih mendambakanmu, hanya engkau, wahai calon mar'atus sholihah.

Kala siang telah berlalu, dan burung-burung tak lagi berkicau, dan angin yang berkejar-kejaran pun telah lunglai kelelahan, maka tirai kegelapan yang tebal dibentangkan padaku. Aku harus segera melabuhkan cintaku dan memulai melayarkan perahuku bersamamu, oleh karenanya aku bermaksud meminangmu, tetapi aku tak berani dan aku tak punya nyali. Lalu ku urungkan niatku, ku tunggu hingga esok hari.

Di pagi yang masih buta telah dibisikkan bahwa aku akan berlayar dalam perahu, berlayar di samudera yang tak bertepi, dalam senyummu yang kian mendengar kidunganku akan semakin lincah dalam melodinya, bebas laksana gelombang, bebas dari semua perbudakan kata-kata. Tetapi entah kenapa aku tetap tak berani? tetap tak punya nyali? yah, mungkin karena hanya perahu yang ku miliki, bukan kapal mewah seperti titanic, sehingga aku tak berani dan tak punya nyali.

Jiwaku bergejolak dan memberontak, "Belum tibakah saatnya? masih adakah amanah yang harus dikerjakan? lihat, senja telah menyelimuti pantai dan bersama pudarnya cahaya burung-burung camar terbang kembali ke sarangnya. Siapa yang tahu si Dia tidak tak akan tetap menunggu kehadiranmu? boleh jadi si Dia akan berlayar dengan perahu yang lain! tak ingatkah kau dengan janji Tuhanmu,
...Dan nikahkanlah orang-orang yang membujang diantara kamu, dan juga orang-orang yang layak (menikah) dari hamba-hamba sahayamu yang laki-laki dan perempuan. Jika mereka miskin, Allah akan memberi kemampuan kepada mereka dengan karunia-Nya. Dan Allah Maha Luas (pemberian-Nya), Maha Mengetahui...
(QS an-Nuur: 32)
Yaa Ilahi... demi jiwaku yang berada dalam genggaman-Mu, bukannya aku tak percaya akan janji-Mu, aku sangat haqqul yaqin atas janji-Mu, karena itu adalah sebuah kepastian. Tapi yang membuatku tak berani dan tak punya nyali adalah apakah si Dia juga yakin akan janji-Mu? dan apakah si Dia akan menerima aku apa adanya, bukan adanya apa?
Photobucket

Seorang Kyai berpesan pada santri-santrinya.


"Aku akan segera berkabung kemasa silam, alias akan dipanggil oleh Allah." kata seorang Kyai pada suatu sore kepada santri-santri nya. "Aku akan segera berlalu, masaku akan segera dikuburkan. Kamu sekalian para santri, sekarang menapak dimasa peralihan dan anak-anakmu akan menjadi penghuni zaman baru yang dahsyat dan mengagumkan setelah orde yang sekarang.

"Sami'na wa atho'na (kami mendengar dan kami taat)" kata para santri dengan penuh ta'dzim, "hamba mohon wahai pak Kyai, tancapkanlah cahaya yang menerangi cakrawala."

sang Kyai terkekeh... "Bahasa dan perilakumu yang semacam itu adalah bahasa generasiku, sehingga besok akan terkubur bersamaku. sedang bahasamu yang dikenal oleh masyarakat adalah bahasa Suap, bahasa Ekstasi, dan bahasa-bahasa yang makin tak mengenal sopan santun. Kini berlatihlah untuk meninggalkan upacara dan jenis sopan santun yang mubadzir dan bertele-tele semacam itu. Kemudian mulailah suatu cara hidup yang praktis, yang pragmatis, yang etik-efektif dan efisien. Kemudian, Engkau adalah bapak dari anak-anakmu kelak dan cara hidup baru itulah modal utama yang Engkau ajarkan ke anakmu agar mereka sanggup berlari seirama dengan zaman yang mereka jalani, cara hidupmu yang bertele-tele jangan Engkau warisi dan jangan Engkau wariskan kepada generasi dibawahmu agar mereka tidak digilas oleh boldoser suatu makhluk baru yang esok lusa akan segera lahir semakin banyak lagi.

si Santri bertanya "apa nama makhluk baru itu, Kyai?!?"

"namanya al-konglomerat" jawab sang Kyai

"Maksud apa itu gerangan, pak Kyai?!?"

"Tubuhnya sangat besar, salah satu kakinya di Surabaya dan kaki lainnya di Ibukota Jakarta."

si Santri bertanya "pak Kyai, itu semacam Gatot Koco yang berotot kawat, bertulang besi!!!"

"Bukan santriku, otot mereka bukan kawat, dan tulang mereka bukan besi. Otot mereka adalah jalan-jalan tol, tulang-tulang mereka cor-cor besi gedung-gedung pencakar langit." jawab sang Kyai

"Jadi kalau gitu mereka sangat kuat, ya Kyai."

"Sangat-sangat kuat, maka katakan pada saudara-saudaramu dan anak-anakmu jangan sekali-sekali melawan mereka kalau sungguh-sungguh belum menghitung kekuatanmu sendiri."

"pak Kyai, persisnya seberapa kuat makhluk yang bernama konglomerat itu?!?"

"Hampir tak terbayangkan, karena mereka sanggup mengalahkan dengan mudah semua pendekar-pendekar ulung termasuk Presiden 212, apalagi hanya sekedar gubernur atau menteri. kalau sekedar bupati atau yang setingkat, hanya dijadikan slilit-slilit kecil disela-sela giginya. Bahkan demi mereka, ada pimpinan-pimpinan penegak hukum yang memaksakan membuat skenario penangkapan antar penegak hukum."

"Ajaib, ya Kyai!!!"

"Ajaib... kalau konglomerat itu meludah, setetes air liurnya menjadi dollar-dollar Amerika. Kalau dia bersin, riaknya menjadi milyaran rupiah."

"kalau batuk jadi apa, Kyai?!?"

"kalau batuk jadi Mall, SuperMarket, dan Plaza-Plaza."

"luar biasa kalau begitu, Kyai. Makanan mereka itu apa, sehari-hari?!?"

"Makanan mereka adalah sejenis jajan yang bernama Rakyat Kecil."

"kalau demikian, akan aku ajarkan pada anak-anakku tentang Ilmu Binatang!!!" ucap si Santri

"loh, apa maksudmu dengan ilmu binatang?!?" tanya sang Kyai

"Ilmu Keserakahan, Kyai."

"Darimana kamu menperoleh ilmu yang mengajarkan kalau ilmu keserakahan adalah milik binatang?!?" selidik sang Kyai

"loh, pak Kyai gimana?!? sudah menjadi pengetahuan umum sepanjang zaman bahwa yang dimaksud dengan kebinatangan adalah kerakusan, kebencian, dan kebiadaban." jawab santrinya

sang kyai tertawa terbahak-bahak dan berkata "kyai mana yang ilmunya sesat seperti itu, tidak ada binatang yang rakus itu tidak ada, binatang itu selalu berhenti makan kalau sudah kenyang. Tidak ada binatang yang sudah kenyang masih terus makan. Manusialah yang masih makan, meskipun sudah kenyang. Manusialah yang tidak pernah merasa cukup, meskipun sudah memiliki ribuan perusahaan. Manusialah dan bukan binatang yang tetap merasa kurang, meskipun ditangannya digenggam seratus pulau. Manusialah yang -meskipun mereka telah kuasai harta yang bisa dipakai untuk membeli sepuluh kota besar- berpendapat bahwa apa yang mereka jalani adalah pola hidup sederhana. Kalau sepuluh ekor semut bergotong royong mengangkut sejumput gula, mereka tidak akan menoleh meskipun melihat disekitarnya tergeletak sejumput gula yang lain. Tapi kalau manusia, manusialah yang selalu sangat sibuk mengisi ususnya dengan penguasaan industri makanan dan kosmetik, industri otomotif, industri politik-praktis, bahkan industri manipulasi terhadap hukum dan kitab suci."
Photobucket

Bismillahir Rahmanir Rahiim...

Assalamu'alaikum Wr. Wb.

Pak Presiden yang saya hormati, Bapak ada dimana?!?
Alhamdulillah, Bapak diberikan kesempatan untuk kali kedua memimpin negeri ini oleh Allah. kutulis surat ini sebagai refleksi dari masa pemerintahan Bapak yang lalu -meskipun saya tidak tahu apakah surat ini akan sampai kepada Bapak- dan demi rasa cinta saya kepada Bapak, serta karena rasa peduli saya pada nasib bangsa ini. Dahulu, meskipun hanya bermodalkan niat, tekad, dan nekat, kuberanikan diri untuk menemui Bapak di kediaman Bapak di Cikeas, akan tetapi sesampainya disana, saya hanya bertemu dengan Kepala Keamanan Rumah Bapak sebab waktu itu Bapak sedang pulang kampung ke Pacitan. Setelah mendengar bahwa Bapak pulang kampung, tanpa menunggu lama-lama, Saya langsung berangkat ke Pacitan dengan sebuah harapan bisa bertemu dan curhat kepada Bapak tentang nasib tetanggaku yang tak kunjung mendapat pekerjaan yang layak, dan meskipun dapat, gajinya tidak cukup untuk menghidupi keluarganya karena harga sembako yang semakin melangit, sehingga keluarganya selalu dirundung kesusahan dan dibelit kelaparan, tak ayal anak semata wayangnya yang keliatan 12 tulang rusuknya sering sakit-sakitan akibat gizi buruk yang diderita. Dibalik itu semua, Saya bangga pada keluarga itu, mereka sabar dan ikhlas menerima keadaan itu, meskipun mereka telah berupaya dan berusaha melakukan apapun untuk merubah kondisi mereka, termasuk menaruh harapan pada Bapak -Meskipun itu kecil kemungkinannya-.

Pak Presiden yang terhormat, Bapak ada dimana?!?
setelah Saya tiba di Pacitan, nasib sial masih berpihak kepadaku, sebab ibunda Bapak mengatakan bahwa satu jam yang lalu Bapak telah balik menuju ke Istana Negara Jakarta. Mandengar hal itu, Saya langsung pergi untuk menyusul Bapak ke Istana Negara tanpa memperhatikan kondisi diriku yang kotor, bau, dekil, item, dsb. Saya beranggapan bahwa kondisi yang Saya alami sekarang, tidak ada apa-apanya jika dibandingkan dengan kondisi yang dirasakan tetanggaku. karena Saya baru beberapa hari saja mengalaminya, sedangkan tetanggaku hampir selama hidupnya. Ditengah perjalanan saya tak habis pikir, ternyata untuk bertemu dengan Pak Presiden sulitnya setengah hidup. Tapi Saya tidak akan menyerah sampai disini, Saya harus bisa bertemu dengan Bapak untuk menceritakan kondisi tetanggaku. Pernah terbersit dalam hatiku ungkapan yang jelek, bahwa Bapak zalim, Bapak kurang ajar, tapi segera kutepis ungkapan itu karena Saya malu pada tetanggaku -yang dalam sepengetahuanku- tidak pernah berprasangka jelek pada Bapak, apalagi mengutuk dan melaknat Bapak. Bahkan yang membuatku tambah kagum pada tetanggaku, disela-sela munajatnya kepada Allah, tetanggaku tak lupa mendoakan kesehatan dan keselamatan pada Bapak, Subhanallah.

Pak Presiden yang dihormati, Bapak ada dimana?!?
Setelah cukup lama berada diperjalanan, akhirnya Saya tiba di jakarta dan melihat Gedung Istana Negara yang berwarna putih berada diujung pandangan mataku, Alhamdulillah. Segera Saya berlari terseok-seok menuju Istana Negara, akan tetapi malangnya nasibku, baru berjarak sekitar 20 meter dari gerbang utama, Saya dicegat oleh Satuan Keamanan Istana Negara dan tidak boleh mendekat lagi. Saya tetap berusaha dengan berbagai macam cara, mulai dari adu mulut hingga adu fisik, tapi tetap tidak berhasil. Saya bingung kenapa Saya tidak boleh manghadap Pak Presiden (meskipun 5 menit saja, untuk menceritakan kondisi tetanggaku), bukankah ini negara demokrasi yang asasnya dari rakyat, oleh rakyat, untuk rakyat. Apakah mungkin karena kondisiku yang menempel berbagai macam atribut kejelekan?, ataukah Saya dicurigai sebagai seorang teroris? Saya tak tahu. ketika saya bertanya tentang keberadaan Bapak, Mereka menjawab bahwa Bapak tidak ada karena ada urusan ke Amerika. Esoknya lagi saya bertanya, dijawab bahwa Bapak sedang ke Eropa. Esoknya lagi, Bapak ada di Australia. Akhirnya, dengan rasa kecewa Saya pulang tanpa bawa hasil apa-apa, sejak itu dalam diriku tertanam bahwa "Demokrasi yang katanya dari rakyat, oleh rakyat, untuk rakyat adalah kebohongan besar".

Pak Presiden yang Saya hormati, Bapak ada dimana?!?
Tibalah Saya di kampung halaman, tapi ada yang aneh, kampungku terasa sepi, Saya yakin pasti telah terjadi sesuatu pada tetanggaku. Setelah kuselidiki, tanpa bisa membendung air mataku, dan ucapan Innalillahi wa Innailaihiroji'un keluar dari lisanku tanpa dikomando. Pak Presiden, tetanggaku telah meninggal dunia dengan kondisi yang mengenaskan, anak-anaknya mati karena busung lapar, ayah dan ibunya mati karena kelaparan. Asal Bapak tahu, tetanggaku adalah rakyat bangsa ini yang ada dipelosok-pelosok pulau. Setelah kejadian itu Saya merenung, dan berkata dalam hati.
Jikalau di Dunia ini Saya kesulitan bertemu dengan Bapak, untuk menceritakan kondisi tetanggaku. tapi Saya tetap memohon kepada Allah, agar kita bisa dipertemukan di Akhirat kelak. Namun jikalau Allah berkehendak lain, setelah kucari-cari Bapak di setiap sudut Surga, tapi hasilnya tetap nihil. Lalu Pak Presiden yang Saya hormati, Bapak ada dimana? Padahal Saya cuma mau menyampaikan berita gembira bahwa tetanggaku sekarang telah hidup damai-sentosa, Mereka sudah bisa tidur nyenyak tanpa kekurangan apapun. Alhamdulillah...
Mungkin pembaca yang hanif dan yang peduli terhadap Nasib bangsa ini, bisa membantuku untuk menyampaikan surat ini kepada Pak Presiden dengan menyebarkan surat ini semampunya. dan membantuku mencari Pak Presiden di Akhirat kelak(jika Pak Presiden masih tetap seperti Pemerintahan yang lalu), Dimanakah Pak Presiden jikalau di Surga tidak ada?!?
Photobucket


Suatu ketika di negeri Antah Berantah kedatangan tamu seorang Ulama Arif Billah dari Timur Tengah untuk melihat secara langsung kondisi negeri yang katanya jumlah muslim terbesar di dunia, dari serangkaian agenda di negeri itu, tak lupa sang Ulama berkunjung ke Istana Negara untuk bertemu dengan si Presiden sebagai agenda terakhir.

Setelah ngobrol ngalor-ngidul dengan si Presiden, sang Ulama hendak berpamitan ke Presiden dan berencana langsung take out menuju Negara asalnya, tapi si Presiden berupaya mencegahnya dengan sebuah pertanyaan. Dengan nada serius, sambil menunjukkan sebuah koper yang ada di atas meja sebelah, yang memang disediakan oleh si Presiden untuk dihadiahkan ke sang Ulama karena si Presiden tidak mau negeranya diopinikan sebagai Negara miskin (padahal kenyataannya emang miskin, seperti yang Pembaca juga ketahui) di Dunia, utamanya sesama negeri muslim lainnya.

si Presiden: “ya Syaikh… disitu ada sebuah koper yang berisikan berlembar-lembar uang dollar dan berkeping-keping emas murni, kira-kira nih, Syaikh memilih yang mana antara keArif-Bijaksaan dengan keHarta-Bendaan?”

Tanpa berpikir panjang, sang Ulama berdiri dan berjalan menghampiri koper itu. Sesampainya disana, tanpa keraguan sedikitpun sang Ulama mengambil koper itu dan berkata.

sang Ulama: ”pak Presiden yang terhormat, meskipun Bapak tak sungguh-sungguh menghadiahkan ini pun buat saya, saya tetap pilih keHarta-Bendaan”.

Sontak si Presiden terkejut, terkejut bukan karena koper dan isinya akan diambil sang Ulama, karena memang itu semua untuk dihadiahkan ke sang Ulama. tapi si Presiden terkejut dengan pilihan sang Ulama, sehingga dalam benaknya seakan-akan berkata “apa ini yang disebut Ulama Arif Billah”. Dalam keterkejutan itu, Ia berdiri dan berkata lantang sambil tertawa.

si Presiden: ”hahahahaha… koper itu memang Saya hadiahkan buat Syaikh, silahkan diambil. kalau Saya pribadi lebih memilih keArif-Bijaksaan, Syaikh”.

Begitulah respon si Presiden terhadap pilihan sang Ulama, yang seakan-akan meremehkan kredibilitas sang Ulama sebagai seorang Ulama Arif Billah dan meremehkan kapasitas keilmuan sang Ulama sebagai pewaris para nabi. Tapi tanpa sedikitpun merasa tersinggung, sang Ulama menghampiri si Presiden sambil menenteng koper yang berisikan simbol kekayaan itu, lalu berkata.

sang Ulama: ”Saya baru tahu dan sadar sekarang, ternyata kebanyakan manusia memilih apa yang belum mereka miliki. Saya pamit dulu pak, Wassalamu’alaikum”.

Kemudian sang Ulama bergegas keluar Istana Negara setelah bersalaman dengan si Presiden, sang Ulama memang sengaja bertindak seperti itu sebagai pelajaran buat si Presiden karena sang Ulama tahu persis bagaimana sengsaranya, miskinnya, dan melaratnya rakyat negeri itu(ane rasa pembaca yang budiman juga tahu itu, hehehe) setelah kunjungannya ke beberapa daerah. Setelah mendengar ucapakan sang Ulama, si Presiden hanya bisa diam saja (entah diam karena insaf, atau diam karena menahan amarah yang meluap-luap) dan hanya mampu menjawab salam dari sang Ulama.

si Presiden: "Wassalamu’alaikum…" (@_@)
Photobucket

Sejak kemerdekaan hinggga lebih dari enam dekade, sekulerisme mengatur Indonesia, terlepas dari siapa pun yang berkuasa. Hal yang sama juga terjadi di negeri-negeri muslim lainnya. Sistem Sekuler telah menyebabkan rakyat terus menerus hidup dalam berbagai krisis yang tidak berkesudahan. Sampai saat ini fakta kemiskinan, kebodohan, kedzaliman, ketidakadlian, disintegrasi dan berbagai problem lain, termasuk penjajahan dalam segala bentuknya, senantiasa mewarnai kehidupan masyarakat Indonesia dan negeri-negeri muslim lainnya. Sistem Sekuler telah mengakibatkan potensi sumber daya alam dan kekayaan mineral yang sangat melimpah tidak mampu membuat rakyat hidup dalam kebaikan. Justru sebaliknya, rakyat hidup dalam penderitaan. Semua potensi dan kekayaan alamyang dimiliki seolah tidak memberikan arti apa-apa buat hidup rakyat.

Oleh karena itu, setelah kami melihat, mencermati dan menganalisa fakta kerusakan yang ada serta merumuskan kondisi ideal, maka demi Allah, Zat yang jiwa kami berada dalam genggaman-Nya, Kami Mahasiswa Indonesia bersumpah:

  1. Dengan sepenuh jiwa, kami yakin bahwa sistem sekuler, baik berbentuk kapitalis-demokrasi maupun sosialis-komunis adalah sumber penderitaan rakyat dan sangat membahayakan eksistensi Indonesia dan negeri-negeri muslim lainnya.
  2. Dengan sepenuh jiwa, kami yakin bahwa kedaulatan sepenuhnya harus dikembalikan kepada Allah –Sang Pencipta alam semesta, manusia, dan kehidupan – untuk menentukan masa depan Indonesia dan negeri-negeri muslim lainnya.
  3. Dengan sepenuh jiwa, kami akan terus berjuang tanpa lelah untuk tegaknya Syari’ah Islam dalam naungan Negara Khilafah Islamiyah sebagai solusi tuntas problematika masyarakat Indonesia dan negeri-negeri muslim lainnya.
  4. Dengan sepenuh jiwa, kami menyatakan kepada semua pihak bahwa perjuangan yang kami lakukan adalah dengan seruan dan tantangan intelektual tanpa kekerasan.
  5. Dengan sepenuh jiwa, kami menyatakan bahwa perjuangan yang kami lakukan bukanlah sebatas tuntutan sejarah tetapi adalah konsekuensi iman yang mendalam kepada Allah SWT.
Photobucket

KiamatSudahDekat.News Negeri Antahberantah, Pemilihan Presiden (PilPres) tahun ini dimenangkan oleh kandidat dari sebuah Partai. Setelah acara Pelantikan Presiden terpilih usai, semua anggota kabinet baru(para Menteri) pulang ke rumah masing-masing, termasuk sang Presiden terpilih. tak lama kemudian, sekitar 5 jam setelah acara pelantikan usai, sang Presiden menelpon Menteri Agama.
sang Presiden: (sambil memegang gagang telepon)... tuut...tuut...tuut...ceklek?!? Assalamu'alaikum pak Menteri.callme

si Menteri: Wa'alaikumussalam Warohmatullah Wabarokatuh... ada apa, pak Presiden? ada yang bisa Saya bantu???

s
ang Presiden: Begini pak Menteri, Bapak bisa kerumah saya apa tidak sekarang?!? saya mau bicarakan empat alis sama pak Menteri.
si Menteri: o0o... bisa pak, bisa pak, dengan senang hati. jam berapa, pak Presiden?!?

sang Presiden: sekarang juga pak Menteri, saya tunggu dirumah.

si Menteri: iya pak, saya segera kesana sekarang. tunggu sekitar 15 menit, InsyaAllah saya tiba di rumah Bapak.

sang Presiden: ok, Wassalamu'alaikum.

si Menteri: Wa'alaikumussalam Warohmatullah Wabarokatuh.

15 menit kemudian, si Menteri benar-benar sudah tiba di kediaman sang Presiden. setelah memarkirkan Mobil Dinasnya(-Toyota Camry, kawan) di Taman Halaman Rumah sang Presiden, si Menteri langsung beranjak dari Mobil Dinasnya menuju sang Presiden yang sudah menunggu di teras rumah dengan satu toples makanan ringan 'Khong Guan' dan dua cangkir teh beserta cereknya.

si Menteri: Assalamu'alaikum Warohmatullah Wabarokatuh, maaf Pak, saya membuat Bapak menunggu.

sang Presiden: Wa'alaikumussalam, ooh...tidak apa-apa pak Menteri, saya juga baru aja keluar kok. Silahkan duduk, pak.

si Menteri: Terima kasih, pak. kalau boleh tahu kira-kira ada apa yaa Pak, kok saya dipanggil kesini????

sang Presiden: Mmm... gini Pak, saya mau tanya ke bapak. tapi Bapak harus jawab dengan jujur, gimana!?!

si Menteri: o00... itu sudah pasti Pak, masak Menteri Agama berbohong. silahkan, Bapak mau tanya apa???oia, Saya minum teh ini yaa Pak!!!

sang Presiden: Silahkan Pak, maaf saya lupa menyuguhinya. gini Pak, Saya kan terpilih lagi jadi presiden. sedang Bapak 'kan Menteri Agama dan Orang Tertua dikabinet Saya, setidaknya Bapak tahu kebijakan-kebijakan presiden sebelum saya. kalau menurut Bapak, kira-kira mana yang lebih baik antara saya dengan presiden yang sebelum saya?

si Menteri: menurut Saya, Bapak lebih baik dari pada presiden yang kemarin.

sang Presiden : ah yang bener pak, Kalo boleh tahu kenapa kok Bapak bilang begitu!!!

si Menteri : Bapak ini gimana sih, itu kan sudah jadi rahasia umum. presiden yang sebelum Bapak itu takut sama teroris, kalau Bapak kan 'tidak'. jadi Bapak yang lebih baik…

sang Presiden : o0o, gitu… benar juga ya… Pak, pak Menteri… kalau sama presiden yang sebelumnya lagi, lebih baik-an dia apa Saya…?

si Menteri : ya lebih baik-an Bapak lah... soalnya presiden yang dulu itu kan takut sama Amerika dan Rusia… kalau Bapak kan enggak, bahkan AS & Rusia ngajak kerjasama dengan negara kita.

sang Presiden : o00, gitu… benar juga ya… Kalau begitu Saya ini Presiden terbaik ya pak Menteri...!!!

si Menteri : yo jelas tho pak Presiden…

sang Presiden : emh…ehm… pak Menteri… saya tanya dengan sungguh-sungguh, ini pertanyaan terakhir, tolong pak Menteri jawab yang sejujur-jujurnya… kira-kira nih kalau dibandingkan dengan Umar bin Khattab(-Pemimpin yang sangat Adil dan Bijaksana, Khalifah kedua setelah Abu Bakar), mana yang lebih baik? Saya atau Dia?

si Menteri : (dengan perasaan agak kesal karena pertanyaan sang Presiden yang keterlaluan, namun masih dengan muka manis, si Menteri menjawab)….tentu Bapak yang lebih baik…..

sang Presiden : (dengan perasaan bangga, Presiden bertanya) kok bisa pak Menteri…?

si Menteri : iya lah Pak, Umar bin Khattab itu kan takut kepada Allah, sedangkan Pak Presiden kan tidak…!!!

sang Presiden : tensiontension
Photobucket

Inilah catatanku, tentang diriku bersama orang-orang yang dekat denganku: Ayahanda, Bunda, Saudara, Kerabat, dan akhirnya calon Bidadariku yang sibuk dalam penantian di hiruk pikuk Dakwah Islamiyah. Juga sobat seperguruan dan seperjuangan yang kukenal baik, dan banyak kuikuti pemikirannya. Ataupun teman yang sekedar kenal, dan susah kupahami jalan pemikirannya. Hidup ini kadang memang sulit dipahami...